![]() |
| pinterest.com |
Ramadhan merupakan bulan penuh keberkahan di dalamnya, salah satunya dengan tersimpannya lailatul qadr pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Menurut mayoritas ulama, tepatnya pada Asywal awakhir min ramadhan, malam ganjil di bulan Ramadhan, merupakan malam-malam yang berpotensi lailatul qadr, walaupun sejatinya hanya Allah yang maha mengetahui.
Bersedekah di malam lekoran; 10 malam terakhir bulan Ramadhan, utamanya tiap malam-malam ganjil masih eksis dilaksanakan di Madura termasuk oleh warga Lengser, Dharma Camplong dan sekitarnya. Tradisi yang telah mengakar kuat dalam masyarakat yang biasa disebut sebagai “rebbe” atau “ter-ater” ini merupakan kegiatan menyedekahkan makanan kepada tetangga ataupun musholla dan masjid terdekat, biasanya berupa serabhih, lopes, plotan, dan jenis makanan lain. Kegiatan ter-ater; sedekah yang sengaja dilaksanakan pada tanggal ganjil di akhir Ramadhan itu menurut KH. Mohammad Khotibul Umam, Lc., pengasuh Pondok Pesantren Annawawi Lengser, Dharma Camplong merupakan tradisi yang baik, jika hal tersebut dimaknai sebagai sedekah; sebagai bagian dari usaha untuk menggapai lailatul qadr maka hal itu dapat terus dilestarikan.
“Hanya yang perlu dipahamkan kepada masyarakat, mereka ter-ater tepat di malam-malam ganjil itu dalam rangka menggapai lailatu qadr. Karena upaya untuk menggapai lailatul qadr itu tidak harus dengan satu bentuk cara. Sebab pada prinsipnya adalah bagaimana kita mengubah semangat ibadah kita di akhir ramadhan dari sebelum-sebelumnya” Ungkapnya, Jum’at (7/5).
![]() |
| Pengasuh PP. Annawawi |
Lebih lanjut Kyai lulusan Al Ahgaff University Republik Yaman tersebut mengemukakan bahwa sejatinya tidak ada amalan warid yang tegas untuk mendapatkan dengan pasti lailatul qadr, kecuali kita berupaya menggapai dengan memperbanyak ibadah, sholawat kepada Rasulullah Saw, membaca Al Quran, I’tikaf di masjid, bersedekah dan kemudian memperbanyak membaca doa
اللهم انك عفو تحب العفو فاعف عنا
Walaupun sebenarnya masih banyak lagi upaya dalam menggapai lailatul qadr, namun beberapa hal di atas merupakan bagian yang tidak terpisahkan sebagai bentuk usaha meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan tersebut.
“Lailatul qadr khoirun min alfi syahr”, pengetahuan bahwa lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan yang merupakan potongan ayat dalam surah Al-Qadr, surah ke 97 dalam Al-Qur’an ini begitu melekat di hati masyarakat. Ayat ini diturunkan sebagai kesempatan pada umat nabi Muhammad untuk berpeluang sama seperti bani Israil, yang kala itu diketahui mampu beribadah hingga 1000 bulan lamanya kepada Allah Swt.
Kemudian, menurut Kyai Umam (sapaan akrabnya), upaya dalam meraih lailatul qadr perlu dimaknai sebagai sebuah praktek yg sifatnya habl min allah dan habl min nas; lebih terasa bagi masyarakat di sekitarnya, maka betul sekali jika dipraktekkan dalam wujud sedekah atau ter-ater seperti yang selalu dijalankan oleh masyarakat Madura.
“Walaupun hari ini bergeser dalam bentuk parsel, THR, dan lainnya. Shadaqoh adalah bagian yang tak terpisahkan dari bentuk to’at kita dalam menggapai lailatul qadr. Tidak ada isykal ataupun masalah untuk senantiasa keukeuh dilakukan di masyarakat kita” ujar beliau.
Adapun tanda-tanda lailatul qadr, terdapat perbedaan pendapat ulama di dalamnya. Kyai Umam menjelaskan bahwa sebagian ulama ada yang memahaminya dalam konteks alamiah, seperti suasana alam yang cerah, penuh ketenangan dan kedamaian, namun adapula yang memaknainya dengan menemukan ketenangan hati dan lebih bersemangat lagi dalam beribadah dari pada hari-hari sebelumnya. Sebagai umat Islam, kita hanya perlu terus berupaya untuk dapat meraih lailatul qadr dengan berbagai cara yang mampu kita lakukan
“Semoga ini bagian dari yang bisa mencerahkan dan bisa memberi manfaat”, tutup Kyai yang pernah nyantri di Lirboyo ini. (Timmed-MUDha)


Semoga kita semua mendapatkan keberkahan bulan Ramadhan dan keutamaannya lailatul qodar aamiin......
BalasHapusAlhamdulillaah, terima kasih. Smg Miftahul Ulum selalu menabur manfaat bagi semua
BalasHapus